Sumberdaya lahan kering di Indonesia
masih cukup luas bagi pengembangan areal pertanian termasuk perluasan areal
kedelai.
Untuk meningkatkan produksi kedelai
di lahan kering dapat ditempuh melauli 2 pendekatan. Pertama menyediakan
varietas yang adaptif atau toleran pada kondisi lingkungan setempat. Kedua
menyediakan varietas unggul baru dan teknologi yang tepat. Pendekatan dengan
mengintegrasikan kedua cara tersebut akan lebih efektif untuk mencapai tingkat
produktivitas yang menguntungkan.
TEKNIK BUDIDAYA
1.
Penyiapan lahan
- Pengolahan tanah dilakukan sekali hingga 2 kali
(tergantung kondisi tanah).
- Jika curah hujan masih cukup tinggi perlu dibuat
saluran drainase setiap 4 m, sedalam 20-25 cm, sepanjang petakan.
2.
Penggunaan benih unggul
- Varietas unggul kedelai untuk lahan kering antara lain
: Wilis, Anjasmoro, Baluran, Panderman, Ijen.
- Benih bermutu merupakan syarat terpenting dalam
budidaya tanaman kedelai. Benih sehat dan memiliki daya tumbuh minimal 90
%.
- Kebutuhan benih 45-50 kg/ha.
3.
Penanaman
- Untuk mencegah serangan hama lalat bibit, sebelum tanam
diberi perlakukan (seed treatment) dengan insektisida karbosulfan
(Marshal 25 ST) takaran 10-15 gr/kg benih.
- Pada lahan yang baru pertama ditanami kedelai tanah
perlu dicampur dengan rhizobium. Apabila tidak tersedia inokulasi
rhizobium (Rhizopus), dapat digunakan tanah bekas pertanaman
kedelai.
- Penanaman dilakukan dengan tugal, dengan jarak tanam
40 x 15 cm atau 40 x 20 cm, 2 biji/lubang. Semakin subur tanah,
jarak tanam dianjurkan lebih lebar.
4.
Pemupukan
- Pupuk NPK diberikan dengan takaran 75 kg Urea, 100 kg
SP36 dan 100 kg KCl per hektar. Semua pupuk tersebut paling lambat
diberikan pada saat tanaman berumur 14 hari.
- Pemupukan diberikan dalam alur 5-7 cm dar baris tanaman
kemudian ditutup dengan tanah.
5.
Pengendalian gulma
- Penyiangan perlu dilakukan tiga kali (umur 3, 7 dan 10
minggu).
- Pengendalian gulma secara kimia dengan herbisida dapat
dilakukan sebelum pengolahan tanah.
- Setelah penyiangan pertama sebaiknya dilakukan
pembumbunan tanaman.
6.
Pengendalian hama dan penyakit
Komponen-komponen pengendalian dalam
penerapan PHT ada tanaman kedelai adalah :
- Pemanfaatan musuh alami dengan cara menghindari
tindakan-tindakan yang dapat merugikan perkembangan musuh alami.
- Pengendalian fisik dan mekanik antara lain dilakukan
dengan mengambil kelompok telur dan membunuh larva hama atau imagonya atau
mengambil tanaman yang sakit.
- Pengelolaan ekosistem seperti :
Penanaman varietas tahan.
Penggunaan benih sehat dan bermutu
Pergiliran tanaman
Sanitasi dengan membersihkan
sisa-sisa tanaman atau tanaman lain yang dapat menjadi tempat hidup
hama/penyakit.
Masa tanam yang tepat dan tanam
serempak
Penanaman tanaman perangkap atau
penolak, misalnya penanaman jagung pada areal pertanaman kedelai untuk menarik
hama ulat buah (Gelicoverpa armigera) atau tanaman Sesbania
untuk menarik hama penghisap polong.
- Penggunaan pestisida dilakukan setelah populasi hama
melampaui ambang kendali. Pestisida yang dipilih harus yang efektif dan
telah diizinkan.
7.
Panen dan pasca panen
- Panen dilakukan apabila semua daun tanaman telah
rontok, polong berwarna kuning/coklat dan telah mongering.
- Panen dapat dimulai pada pukul 09.00 pagi, pada saat
air embun sudah hilang.
- Panen dilakukan dengan memotong pangkal batang dengan
sabit. Hindari pemanenan dengan cara mencabut tanaman.
- Brangkasan tanaman (hasil panenan) dikumpulkan di
tempat yang kering dan diberi alas terpal/plastik.
- Segera dillakukan penjemuran brangkasan tanaman,
pembijian, pengeringan, pembersihan dan penyimpanan biji.
8.
Penyimpanan
- Penyimpanan untuk tujuan konsumsi, biji yang sudah
kering dan bersih cukup dimasukkan dalam karung plasti (bekas pupuk, beras
dll) disimpan di tempat yang kering.
- Penyimpanan biji sebagai benih perlu memenuhi
persyaratan untuk mempertahankan daya tumbuh sampai beberapa bulan :
Benih yang akan disimpan sudah
kering dan diperkirakan kadar air 9-10 %.
Biji sudah bersih dari kotoran
disimpan dalam kantong plastik dan kedap udara dan kemudian diikat dengan tali.
VARIETAS UNGGUL
- WILIS, Tipe tumbuh determinit; warna bunga ungu;
produktivitas rata-rata 1,6 t/ha; ukuran biji sedang ( 10 gr/100 biji);
agak tahan karat daun dan virus; umur 85-90 hari.
- ANJASMORO, Tipe tumbuh determinit; warna bunga ungu;
produktivitas rata-rata 2,03-2,25 t/ha; ukuran biji besar ( 14,8-15,3
gr/100 biji); moderat terhadap karat; umur 82-92 hari.
- BALURAN Tipe tumbuh determinit; warna bunga ungu;
produktivitas rata-rata 2,5-3,5 t/ha; ukuran biji besar ( 15-17
gr/100 biji); umur 80 hari.
- PANDERMAN Tipe tumbuh determinit; warna bunga putih;
produktivitas rata-rata 2,11 t/ha; ukuran biji besar ( 18-19 gr/100 biji);
umur 85 hari.
- IJEN, Tipe tumbuh determinit; warna bunga ungu;
produktivitas rata-rata 2,15-2,49 t/ha; ukuran biji sedang ( 11,23 gr/100
biji); agak tahan terhadap ulat grayak; umur 83 hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar