Jumat, 10 Januari 2014

TEKNIK BUDIDAYA KEDELAI DI LAHAN KERING

Sumberdaya lahan kering di Indonesia masih cukup luas bagi pengembangan areal pertanian termasuk perluasan areal kedelai.
Untuk meningkatkan produksi kedelai di lahan kering  dapat ditempuh melauli 2 pendekatan. Pertama menyediakan varietas yang adaptif atau toleran pada kondisi lingkungan setempat. Kedua menyediakan varietas unggul baru dan teknologi yang tepat. Pendekatan dengan mengintegrasikan kedua cara tersebut akan lebih efektif untuk mencapai tingkat produktivitas yang menguntungkan.
TEKNIK BUDIDAYA
 1.      Penyiapan lahan
  • Pengolahan tanah dilakukan sekali hingga 2 kali (tergantung kondisi tanah).
  • Jika curah hujan masih cukup tinggi perlu dibuat saluran drainase setiap 4 m, sedalam 20-25 cm, sepanjang petakan.
2.       Penggunaan benih unggul
  • Varietas unggul kedelai untuk lahan kering antara lain : Wilis, Anjasmoro, Baluran, Panderman, Ijen.
  • Benih bermutu merupakan syarat terpenting dalam budidaya tanaman kedelai. Benih sehat dan memiliki daya tumbuh minimal 90 %.
  • Kebutuhan benih 45-50 kg/ha.
3.       Penanaman
  • Untuk mencegah serangan hama lalat bibit, sebelum tanam diberi perlakukan (seed treatment) dengan insektisida karbosulfan (Marshal 25 ST) takaran 10-15 gr/kg benih.
  • Pada lahan yang baru pertama ditanami kedelai tanah perlu dicampur dengan rhizobium. Apabila tidak tersedia inokulasi rhizobium (Rhizopus), dapat digunakan tanah bekas pertanaman kedelai.
  • Penanaman dilakukan dengan tugal, dengan jarak tanam  40 x 15 cm atau 40 x 20 cm, 2 biji/lubang. Semakin subur tanah, jarak tanam dianjurkan lebih lebar.
4.       Pemupukan
  • Pupuk NPK diberikan dengan takaran 75 kg Urea, 100 kg SP36 dan 100 kg KCl per hektar. Semua pupuk tersebut paling lambat diberikan pada saat tanaman berumur 14 hari.
  • Pemupukan diberikan dalam alur 5-7 cm dar baris tanaman kemudian ditutup dengan tanah.
5.       Pengendalian gulma
  • Penyiangan perlu dilakukan tiga kali (umur 3, 7 dan 10 minggu).
  • Pengendalian gulma secara kimia dengan herbisida dapat dilakukan sebelum pengolahan tanah.
  • Setelah penyiangan pertama sebaiknya dilakukan pembumbunan tanaman.
6.       Pengendalian hama dan penyakit
          Komponen-komponen pengendalian dalam penerapan PHT ada tanaman kedelai adalah :
  • Pemanfaatan musuh alami dengan cara menghindari tindakan-tindakan yang dapat merugikan perkembangan musuh alami.
  • Pengendalian fisik dan mekanik antara lain dilakukan dengan mengambil kelompok telur dan membunuh larva hama atau imagonya atau mengambil tanaman yang sakit.
  • Pengelolaan ekosistem seperti :
Penanaman varietas tahan.
Penggunaan benih sehat dan bermutu
Pergiliran tanaman
Sanitasi dengan membersihkan sisa-sisa tanaman atau tanaman lain yang dapat menjadi tempat hidup hama/penyakit.
Masa tanam yang tepat dan tanam serempak
Penanaman tanaman perangkap atau penolak, misalnya penanaman jagung pada areal pertanaman kedelai untuk menarik hama ulat buah (Gelicoverpa armigera) atau tanaman Sesbania untuk menarik hama penghisap polong.
  • Penggunaan pestisida dilakukan setelah populasi hama melampaui ambang kendali. Pestisida yang dipilih harus yang efektif dan telah diizinkan.
7.       Panen dan pasca panen
  • Panen dilakukan apabila semua daun tanaman telah rontok, polong berwarna kuning/coklat dan telah mongering.
  • Panen dapat dimulai pada pukul 09.00 pagi, pada saat air embun sudah hilang.
  • Panen dilakukan dengan memotong pangkal batang dengan sabit. Hindari pemanenan dengan cara mencabut tanaman.
  • Brangkasan tanaman (hasil panenan) dikumpulkan di tempat yang kering dan diberi alas terpal/plastik.
  • Segera dillakukan penjemuran brangkasan tanaman, pembijian, pengeringan, pembersihan dan penyimpanan biji.
8.       Penyimpanan
  • Penyimpanan untuk tujuan konsumsi, biji yang sudah kering dan bersih cukup dimasukkan dalam karung plasti (bekas pupuk, beras dll) disimpan di tempat yang kering.
  • Penyimpanan biji sebagai benih perlu memenuhi persyaratan untuk mempertahankan daya tumbuh sampai beberapa bulan :
Benih yang akan disimpan sudah kering dan diperkirakan kadar air 9-10 %.
Biji sudah bersih dari kotoran disimpan dalam kantong plastik dan kedap udara dan kemudian diikat dengan tali.
VARIETAS UNGGUL
  • WILIS, Tipe tumbuh determinit; warna bunga ungu; produktivitas rata-rata 1,6 t/ha; ukuran biji sedang ( 10 gr/100 biji); agak tahan karat daun dan virus; umur 85-90 hari.
  • ANJASMORO, Tipe tumbuh determinit; warna bunga ungu; produktivitas rata-rata 2,03-2,25 t/ha; ukuran biji besar ( 14,8-15,3 gr/100 biji); moderat terhadap karat; umur 82-92 hari.
  • BALURAN Tipe tumbuh determinit; warna bunga ungu; produktivitas rata-rata 2,5-3,5 t/ha; ukuran biji besar  ( 15-17 gr/100 biji); umur 80 hari.
  • PANDERMAN Tipe tumbuh determinit; warna bunga putih; produktivitas rata-rata 2,11 t/ha; ukuran biji besar ( 18-19 gr/100 biji); umur 85 hari.
  • IJEN, Tipe tumbuh determinit; warna bunga ungu; produktivitas rata-rata 2,15-2,49 t/ha; ukuran biji sedang ( 11,23 gr/100 biji); agak tahan terhadap ulat grayak; umur 83 hari.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar