Senin, 10 Februari 2020

Rumah Burung walet



Mari Barusaha
Walet merupakan investasi nyata masa dapan
mari kita wujudkan sukses bersama.
RUMAH BURUNG WALET

“Ciri rumah burung walet yang sukses”
1. Memenuhi ciri secara alami tempat burung walet menginap sama seperti gua
2. Burung walet mudah masuk dan keluar dari rumah walet
3. Tiada sekatan ke atas alur atau corak terbang burung walet keluar masuk atau dari Lubang Masuk Burung (LMB)ke ruang inap
4. Lubang masuk burung(LMB) rumah burung walet tidak sempit
5. Kegelapan ruang inap disukai oleh walet
6. Suhu rumah burung walet (ruang inap) sama dengan suhu di gua 25°C-29°C
7. Kelembapan rumah burung walet 80-90
8. Papan sirip papan tempat bergantung walet untuk buat sarang dari kayu lembut tidak keras dan tidak mengeluarkan bau damar. Jenis kayu yang diguna adalah seraya merah, kuning
9. Susunan tweeter dalam rumah burung walet. Melibatkan suara inap dan suara panggil atau tarik.
10. Pintu masuk rumah burung walet di Lubang Terjun memudahkan burung walet masuk
11. Penggunaan suara panggil atau suara tarik yang berkualiti.
12. Penggunaan aroma. Aroma lantai dan aroma sirip.Aroma lantai biasanya dari najis burung walit sendiri menghilangkan bau smen, bau di dinding dan lantai. Aroma sirip biasanya dibuat dari sarang burung walet sendiri ia juga menghilangkan bau damar di papan sirip dan wangian untuk ruang inap. Aroma- aroma ini mampu menarik burung walit masuk meninjau RBW anda.
13. Hama pengganggu, pengusaha RBW yang berjaya akan memastikan rumah burung walitnya tiada HAMA PENGGANGGU, contohnya tikus, tokek, semut api, penyengat, lipas, kelawar dan lain2 pengganggu dlm rumah burung walet. Pengusaha perlu masuk dalam RBW sekurang-kurangnya 1 minggu atau 2 minggu sekali untuk melihat Masalah ini.
14. Makanan,pengusaha yang berjaya menyediakan makanan dlm rumah burung waletnya akan membantu burung walet kenyang dan tidak perlu terbang jauh untuk mencari makanan. Pengusaha perlu mencari ilmu kaedah yang betul dalam menyediakan makanan. Perlu diingat makanan yang menghasilkan bau busuk akan menyebabkan burung walet tidak menghuni rumah burung walet anda. Bau yang busuk mampu menarik lalat atau langau masuk ke dalam rumah burung walet. Bau busuk dan bunyi sayap langau atau lalat tidak disukai burung walet.
15. Teknik pengawalan suara bunyi iaitu SUARA PANGGIL (SP) / SUARA TARIK (ST)di pintu masuk rumah burung walet. Suara yang diperdengarkan tidak boleh terlalu nyaring. Sehingga enak di telinga, Seharusnya bunyi Tiruan Burung walet yang dimainkan adalah dengan VOLUME yang cukup sedap untuk telinga mendengar.
SIFAT-SIFAT WALET
Pada habitat aslinya walet ditemukan bersarang di gua-gua yang terpencil. Umumnya, gua itu di tebing-tebing yang curam dekat laut lepas. Di sekitar gua biasanya dikitari oleh hutan lebat. Walet lebih suka bila daerah itu memiliki perairan (sungai atau danau), padang rumput, dan pepohonan yang tinggi dan rimbun. Pada daerah seperti ini, banyak terdapat serangga-serangga kecil yang merupakan makanan walet. Di Indonesia, walet terdapat hampir di seluruh provinsi. Walet tidak menyukai daerah-daerah yang tandus. Walau terbangnya tinggi, walet tidak menyukai daerah dengan ketinggian lebih dari 1.500 m di atas permukaan laut.
Untuk lokasi sarang walet sangat memerlukan tempat yang lembab. Kelembaban ruang yang dibutuhkan sekitar 85-95%. Suhu ruangan yang cocok untuk walet antara 25–29 0C. Walet menginginkan lokasi yang tenang, aman, dan belum tercemar oleh polusi udara. Walet merupakan burung yang hidup secara berkelompok. Walaupun anggota suatu kelompok dapat pindah ke kelompok lain, tetapi tidak ada walet yang hidup memisahkan diri dari lainnya. Jumlah anggota suatu kelompok walet berbeda-beda, tergantung besar kecilnya tempat tinggal. Semakin besar tempat tinggal walet, maka semakin besar pula anggota kelompoknya.
Dalam suatu rumah atau gua dapat dihuni oleh beberapa kelompok. Walet berkelompok dalam segala kegiatan hidup. Mereka berkelompok antara lain untuk berburu serangga bersama ke hutan. Pagi hari berangkat bersama dan sore hari pulang bersama kembali. Suatu kelompok walet akan membangun sarang-sarang secara berdekatan pada tempat tinggalnya. Tidak pernah dalam suatu rumah walet terjadi perselisihan antar kelompok. Walaupun hidup berdesak-desakan di satu tempat, walet tidak saling mengusik walet lainnya.
Setelah seharian mencari makan, walet pulang dan langsung beristirahat di sarang. Kalau biasanya walet terbang lurus sewaktu berburu, maka sewaktu pulang ke rumahnya walet akan terbang berputar-putar mengelilingi rumah. Pada musim membuat sarang dan bertelur, walet pulang lebih cepat dari hari biasa. Walet memang tipe burung yang memiliki sifat pulang kandang.
Walet terikat pada tempat tinggalnya dan senantiasa akan pulang ke tempat itu lagi selama keadaan tempat sesuai dan aman.
Walet menyukai tempat tinggal yang gelap. Lebih-lebih lagi bila sinar matahari yang masuk sangat sedikit. Ini sesuai dengan habitat walet asli di dalam gua yang teduh dan gelap.
Tidak seperti binatang lainnya, walet tidak mempunyai kesulitan dengan kegelapan di sekitar sarangnya. Untuk mengatasi keadaan yang gelap ini walet tidak mengandalkan panca indera matanya. Walet menggunakan sistem pantulan suara sebagai alat pengukur jarak (ekholokasi). Biasanya, walet pulang sesudah senja hari dan keadaan tempat tinggal mereka saat itu sangat gelap. Untuk mengetahui dengan tepat posisi sarang, mereka mengeluarkan suara melengking.
Suara yang dipantulkan kembali oleh dinding rumah tempat mereka bersarang, menuntun mereka untuk mengetahui lokasi dalam ruangan. Itulah sebabnya walet dapat masuk ke dalam gua yang gelap tanpa kesulitan di malam hari.
Sarang walet dibuat pada waktu malam setelah pulang. Sarang tidak dibuat sendiri-sendiri. Kedua pasangan walet, jantan dan betina, bekerja sama memoleskan air liurnya membentuk sarang. Pada kerongkongan walet terdapat sepasang kelenjar saliva yang dapat menghasilkan air liur. Pekerjaan membangun sarang dilakukan terus menerus setiap hari.
Proses pembentukan hingga sebuah sarang selesai memerlukan waktu 40–80 hari. Bila makanan walet berupa serangga banyak terdapat dan tidak pada musim bertelur, waktu yang dibutuhkan sekitar 40 hari. Akan tetapi pada saat musim bertelur, waktunya bisa dua kali lebih lama yaitu sampai 80 hari.
Di luar musim bertelur, ukuran sarang lebih kecil. Bentuk sarang kurang bagus dan tidak beraturan. Sarang ini dibuat hanya sebagai tempat istirahat. Sebaliknya, sarang yang di buat pada musim bertelur.

Rabu, 14 Juni 2017

Budidaya Terong

Cara Budidaya Terong.
Prospek budidaya tanaman terong makin baik untuk dikelola secara intensif dan komersial dalam skala agribisnis, namun hasil rata-ratanya masih rendah. Hal ini disebabkan bentuk kultur budidaya yang masih sampingan, belum memadainya informasi teknik budidaya di tingkat petani.
Description: http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRgV6RtixuminsD86mCAH3Ymip3WYqczj6Rd_I8V_HQSU_BuILq-JHc1c9M
Deskripsi Terong
Terong (Solanum melongena) merupakan tanaman setahun berjenis perdu yang dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 60-90 cm. Daun tanaman ini lebar dan berbentuk telinga. Bunganya berwarna ungu dan merupakan bunga yang sempurna, biasanya terpisah dan terbentuk dalam tandan bunga.

Manfaat Terong
Buah terung sudah sangat dikenal masyarakat dan banyak digunakan sebagai lalap (sayuran segar) atau disayur. Hal ini disebabkan oleh rasa buah terung yang enak dan banyak mengandung vitamin.

Jenis -  Jenis Terong
1. Terong Pipit
Biasa disebut terong mini karena ukurannya yang kecil. Bentuknya bulat, selain berwarna hijau, juga ada yang berwarna ungu. Umumnya dimakan sebagai lalapan dan biasa terhidang di menu masakan Sunda, seperti karedok (pecel dengan sayuran serba mentah).

2. Terong Telunjuk
Bentuknya panjang seperti telunjuk, dan lazim terdapat di menu masakan Sumatera. Misalnya, dimasak untuk bumbu gulai dengan campuran udang atau daging sapi serta disambal balado, dapat juga ditumis dengan tambahan tauco.
3. Terong Ungu
Jenis ini yang paling terkenal dari terong. Bentuknya beragam, ada yang bulat dan yang panjang. Jenis terong ungu dengan warna lebih tua dijuluki terong jepang karena sering digunakan pada kuliner Jepang, seperti tempura. Selain kering, rasanya juga renyah. Sementara yang warnanya tidak terlalu gelap, berkarakter lebih lunak. Ada juga yang berwarna hijau, dan biasa dimasukkan sebagai bahan sayur lodeh.
4. Terong Belanda
Bentuknya lonjong menyerupai telur namun lebih runcing ujungnya. Daging buahnya banyak mengandung sari buah, rasanya agak asam, berwarna agak hitam sampai kekuning-kuningan, kulit buah tipis. Sewaktu belum matang, warnanya kuning lalu berubah menjadi ungu ketika sudah matang. Bijinya bulat pipih, tipis dan keras. Berbeda dengan jenis terong lain, terong belanda ini biasa diolah menjadi jus.
Description: http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ7RSEeTNiVy-scB8z_wm_pc-Sk8prmE2135JqXT-qAFjXrl-RdWJ2lXd92
Syarat Tumbuh Terong
Terung sangat mudah dibiakkan karena ia dapat hidup di daerah dataran rendah hingga dataran tinggi sekitar 1.200 m dpl. Namun demikian, tanah itu harus memiliki cukup banyak kandungan bahan organik dan berdrainase baik. Selain itu, pH tanah harus berkisar antara 5-6 agar pertumbuhannya optimal.
- Dapat tumbuh di dataran rendah tinggi
- Suhu udara 22 - 30o C
- Jenis tanah yang paling baik, jenis lempung berpasir, subur, kaya bahan organik, aerasi dan drainase baik dan pH antara 6,8-7,3
- Sinar matahari harus cukup
- Cocok ditanam musim kemarau

BENIH DAN PERSEMAIAN 
Benih terung sebaiknya disemaikan dulu sebelum ditanam pada lahan yang tetap. Pembuatan bedengan dan cara penyemaian terung tidaklah berbeda seperti perlakuan pada tomat. Hanya saja kebutuhan benih terung berbeda dengan benih tomat. Untuk lahan seluas 1 ha, diperlukan 500 g benih terung dengan daya kecambah 75070. Bibit terung berada di persemaian hingga berumur kurang lebih 1,5 bulan atau kira-kira telah berdaun empat helai. Setelah itu bibit terung sudah siap untuk dipindahkan di lahan penanaman.

PENANAMAN
Lahan penanaman disiapkan dan diolah terlebih dahulu, kemudian di bentuk bedengan. Bedengan dibuat selebar antara 1,2 – 1,4 cm dan panjang sesuai lahan. Kemudian bedengan dibuatkan lubang tanam masing-masing berjarak sekitar 60 cm. Jarak antarbarisan lubang tanam 70-80 cm. Setiap bedengan memuat dua barisan tanaman. Di antara bedengan, haruslah dibuat parit yang berfungsi sebagai jalan dan pembuangan air saat musim hujan. Hal ini penting dilakukan karena terung tidak tahan genangan air. Selanjutnya setiap lubang tanam diberi pupuk kandang atau kompos sebanyak 0,5-1 kg agar tanah cukup mengandung bahan organik. Setelah lahan disiapkan, sebaiknya bibit yang telah siap tanam dimasukkan secara tegak lurus ke dalam lubang tanam. Kemudian di sekitar lubang tanam disirami air agar tanah cukup lembap, tetapi tidak sampai tergenang.

Pemeliharaan Terong
Setelah tanam, penyiraman dilakukan kembali setiap 3 hari sekali hingga saat berbunga. Ketika masa berbunga, penyiraman dilakukan 2 hari sekali. Namun, apabila penanaman dilakukan pada daerah kering, maka penyiraman dapat dilakukan lebih sering agar tanaman tidak layu kekeringan. Pemupukan pada terung dilakukan tiga kali, yaitu sebagai pupuk dasar, susulan I, dan susulan II. Pupuk dasar diberikan saat tanah mulai diolah, pupuk susulan I diberikan 7 -14 hari sesudah tanam, dan pupuk susulan II diberikan saat tanaman mulai berbunga. Dosis pemupukan bervariasi untuk setiap jenis terung dan jenis tanahnya, lihat pada Tabel berikut.


WAKTU DAN DOSIS PEMUPUKAN TERUNG 
No Jenis pupuk Total Pupuk Dasar Pupuk susulan I II 1. Pupuk kandang 15 ton 15 ton 2. Urea 300 kg 100 kg 100 kg 100 kg 3. TSP 200 kg 200 kg 4. KCI 200 kg 200 kg Sumber : Rush Hukum, kk.,1990. Pemeliharaan selanjutnya seperti penyiangan dan pendangiran dilakukan bersamaan dengan pemberian pupuk susulan. Namun, bila dirasa perlu, penyiangan dan pendangiran dapat dilakukan lebih sering. Tanaman terung memerlukan penyangga agar cabang lateralnya tidak raboh terkena angin atau hujan. Ajir dapat dibuat dari bambu atau kawat setinggi 60-90 cm.

Hama dan Penyakit Terong
HAMA APHIS (KUTU DAUN) 
Serangan hama ini ditandai dengan mengerutnya daun karena mengering. Daunnya berwarna kuning. Pemberantasannya umumnya dilakukan dengan Basudin 40 WP dan Bayrusi125 EC. Tungau (Tetranychus) Serangan hama ini ditandai dengan pertumbuhan tanaman terung menjadi abnormal. Daun pucuk atau tunas yang terserang berubah menjadi keriput dan berwarna kuning. Hama ini menyerang daun dan cabang muda dengan cara mengisap cairan dalam jaringan tanaman. Pengendalian serangan dilakukan dengan menggunakan larutan Kalthene 0,2 %, Dimetoate (Rogor, Roxixon) 0,1 % atau larutan Sumithion 1:1.000 (18 cc dalam 15 liter air).

PENYAKIT KARAT DAUN 
Serangan penyakit ini ditandai dengan adanya bercak-bercak kuning (blight) dan kanker pada daun maupun -tanaman. Penyebabnya adalah Phomopsis vexans (Sacc & Syd) Harter atau Diaphote vexans Gratz. Penyakit ini sulit diberantas. Untuk itu, sebaiknya pada awal penanaman digunakan Dithane M-45 berkonsentrasi 0,2-0,3 %.

BUSUK AKAR 
Serangan penyakit ini ditandai dengan warna daun menjadi lebih hijau, lalu menjadi kuning, dan akhirnya mati. Penyebabnya adalah cendawan Yerticilium alboatrum yang menyerang akar dan pembuluh pada jaringan tanaman. Pencegahan serangan selanjutnya dengan menggunakan Dithane M-45 (0,2-0,3 %). Sebenarnya penyakit ini dapat dikendalikan dengan perlakuan tanah, antara lain fumigasi, drainase yang baik, dan rotasi tanaman.

Panen dan Pasca Panen Terong

Umur terung yang dapat dipanen tergantung dari varietas yang ditanam. Namun, secara umum terung dapat dipanen sekitar 4 bulan atau 90 hari sejak semai. Selanjutnya selang seminggu sekali, buah terung dapat dipanen 6-7 kali. Dalam pemanenan, diperhitungkan pula lama pengangkutan sampai ke tangan konsumen. Sebaiknya terung yang dipetik adalah buah muda yang bijinya belum keras dan daging buahnya belum liat. Apabila pengangkutan memerlukan waktu lama, maka sebaiknya terung dipetik sebelum masak, tapi sudah tampak bernas (berisi). Waktu panen sebaiknya dilakukan saat pagi hari atau sore hari. Hindari waktu panen saat terik matahari karena dapat mengganggu tanaman dan membuat kulit terung menjadi keriput (kering) sehingga menurunkan kualitas.




Jumat, 29 Agustus 2014

Propposal PKL I. Alluis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan pertanian tidak terlepas dari peranan penyuluhan pertanian, dimana penyuluhan mempunyai peranan yang sangat besar dalam mentransfer teknologi dan informasi kepada pelaku utama dan pelaku usaha sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian, Tanpa perubahan teknologi atau transfer teknologi dan informasi maka pertumbuhan ekonomi hanya mampu meningkatkan level produksi di sekitar fungsi produksi.
Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang cukup besar di sektor pertanian, pemerintah telah melakukan kebijakan di sektor pertanian. Salah satu kebijakan pemerintah adalah Kebijakan Pemantapan Sistim Penyuluhan, yang di harapkan akan dapat mempercepat transfer teknologi dan informasi kepada sasaran penyuluhan.
Penyuluhan pertanian dalam hal ini diartikan sebagai proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumberdaya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup (UU RI No.16 Tahun 2006).
Merujuk pada pengertian diatas maka penyuluh pertanian dituntut untuk tidak hanya menguasai teknik penyuluhan saja tetapi juga harus memiliki kompetensiprofesi penyuluh seperti yang tertuang dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) penyuluh pertanian. Prinsip profesi penyuluh pertanian yang harus dimiliki oleh seorang penyuluh pertanian adalah :
1)    Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme.
2)    Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu penyuluhan, keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia.
3)    Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugasnya.
4)    Memiliki kompetensi yang di perlukan sesuai dengan bidang tugas.
5)    Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesian
6)    Memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesionalisme secara berkelanjutan.
7)    Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesian.
Sehubungan dengan tuntutan tersebut diatas, maka Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Malang, sebagai salah satu Lembaga Pendidikan Tinggi milik Kementrian Pertanian yang bertugas menyelenggarakan pendidikan untuk menghasilkan profil lulusan dengan kompetensi profesi penyuluh pertanian. Sistem pembelajaran yang di terapkan adalah dengan menggunakan In and Out Campus Learning System, agar mahasiswa memiliki waktu yang cukup untuk mengasah kompetensinya melalui proses pembelajaran dalam kondisi nyata di lapangan.
Kegiatan yang akan di laksanakan dalam Praktik Kerja Kompetensi Penyuluh Pertanian (PK2P2) I adalah Identifikasi potensi wilayah dan agroekosistem serta penyusunan programa penyuluhan pertanian desa. Dari hasil pengumpulan dan pengolahan data potensi wilayah diharapkan dapat memberi rekomendasi dalam membantu memecahkan masalah yang dihadapi oleh petani di wilayah tersebut. Selain itu dapat pula merumuskan alternative rekomendasi pola pengembangan usahatani.
Pengumpulan dan pengolahan data potensi wilayah mutlak di perlukan, dimana nantinya akan digunakan sebagai dasar penyusunan programa penyuluhan pertanian dengan materi, metode dan media penyuluhan yang tepat sehingga pelaksanaan penyuluhan dalam rangka peningkatan kesejahteraan petani dapat berjalan secara efektif dan efisien.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum adalah :
1)    Mahasiswa dapat mengimplementasikan pengetahuan,   keterampilan dan sikap yang di peroleh selama mengikuti pembelajaran di smester sebelumnya.
2)    Membentuk sikap mental ilmiah mahasiswa dalam memecahkan masalah-masalah yang ada pada masyarakat tani melalui kegiatan penyuluhan pertanian.


1.2.2 Tujuan khusus adalah :
1)    Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam melaksanakan identifikasi potensi wilayah dan agroekosistem
2)    Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam penyusunan programa penyuluhan pertanian desa.
3)    Meningkatkan kemampuan dan keterampilan mahasiswa dalam penysunan rancangan penyuluhan pertanian.
4)    Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam pemberdayaan dan pembelajaran petani dan kelompok tani.
5)    Mahasiswa mampu menyusun perencanaan penyuluhan   partisipatif mulai dari penyusunan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi penyuluhan pertanian.
6)    Mahasiswa dapat membuat konsep pengembangan agribisnis diwilayah melalui pertimbangan aspek potensi sosial ekonomi masyarakat.
1.3 Manfaat
1.3.1 Manfaat bagi mahasiswa adalah :
1)    Mahasiswa dapat berlatih melakukan tugas kerja penyuluhan dalam pemberdayaan masyarakat petani.
2)    Mahasiswa dapat melakukan kerja sama dengan instansi pemerintah/swasta, pengusaha tani dan stakeholder lain.
3)    Mahasiswa dapat berlatih dalam bermasyarakat dengan kondisi sosiokultur yang berbeda.
1.3.2 Manfaat bagi pihak terkait adalah :
1)    Mengenal STPP sebagai penyelenggara program pendidikan D IV Penyuluhan Pertanian’
2)    Membantu menyelesaikan tugas/pekerjaan rutin terkait dengan penyuluhan pertanian yang dilakukan instansi, pengusaha dan petani.
3)    Menciptakan kerja sama yang baik dan saling menguntungkan dibidang penelitian maupun pemberdayaan SDM pertanian.




1.3.3 Manfaat bagi STPP Malang adalah :
1)    Dihasilkannya SDM Penyuluh Pertanian Ahli yang memiliki integritas moral, professional, inovatif, kredibel dan berwawasan global serta memiliki etos kerja yang tinggi dalam membangun system penyuluhan pertanian.
2)    Dapat melaksanakan tanggung jawab STPP Malang dalam rangka menyebarluaskan inovasi kepada pelaku utama dan pelaku usaha di daerah asal/wilayah kerja mahasiswa.
3)    Meningkatkan eksistensi STPP Malang sebagai lembaga pendidikan penyuluhan pertanian.
4)    Meningkatkan kerjasama STPP Malang dengan instansi maupun stakeholder lainnya.
























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Identifikasi Potensi Wilayah
2.1.1 Pengertian Identifikasi Potensi Wilayah
Identifikasi potensi wilayah dilakukan untuk memperoleh data keadaan wilayah agroekosistem meliputi fisik, keadaan sosial, keadaan ekonomi dan potensi pendukung dari monografi desa/ kecamatan/ BPP atau dari sumber- sumber lain yang relevan dengan data primer yang diperoleh dari lapangan, petani dan dari masyarakat. Identifikasi dilakukan dengan cara:
1)    Identifikasi data sekunder dengan cara mengumpul seluruh data agroekosistem, data monografi desa/ kecamatan/ BPP dan lain- lain.
2)    Identifikasi data primer menggunakan teknik agroekosistem, dengan pendekatan pertisipatif dan wawancara semi terstruktur menggunakan teknik PRA.
3)    Penempatan impar point. Dengan menggunakan analisis masalah dan pengebab masalah, penetapan prioritas dan menetapkan faktor penentu.
Hasil identifikasi disusun dalam laporan yang menggambarkan keadaan, prioritas masalah dan faktor pengebab masalah, faktor penentu kebutuhan penyesuaian masalah dalam bentuk  Rencana Definitif  Kgiatan Kelompok (RDKK) dalam kebutuhan pelayanan/ fasilitasi kelompok. Gambaran tentang keadaan wilayah, kehidupan, kebiasaan, kecendrungan, kebutuhan, aspirasi, potensi dan masalah masyarakat suatu desa dikatakan sebagai potensi yang dimiliki. Peta desa disusun melalui pengalaman belajar bersama yang intesif, singkat dan interktif. Potensi ekonomi desa merujuk pada komuditas dan kegiatan ekonomi yang dimiliki nilai srategis yang penting yang dilakukan penduduk setempat. Sedangkan potensi ekonomi merujuk pada sasaran ekonomi (dalam bentuk fisik) yang teridentifikasi disetiap desa dan kelurahan yang semuanya dapat dirangkum dalam peta potensi desa ( Wahyuti, 2008).
2.1.2 Tahapan identifikasi potensi wilayah.
1)    Identifikasi data sekunder dilakukan dengan cara mengumpulkan seluruh data potensi-potensi wilayah dan agroekosistem yang berasal dari data monografi desa/ kecamatan/ BPP dan lain-lain.
2)    Identifikasi data primer menggunakan pendekatan partisipatif dan wawancara semi terstruktur menggunakan modifikasi teknik PRA.
3)    Merumuskan dan menetapkan potensi wilayah dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif.
4)    Penyusunan laporan.
2.1.3 Pengertian Participatory Rural Appraisal (PRA)
Participatori Rural Appraisal (PRA) diterjemahkan secara halafia sebagai penilaian/ pengkajian/ penelitian desa secara partisipatif. Dengan demikian metode PRA diartikan dengan cara menggunakan dalam melakukan kajian untuk memahami keadaan atau kondisi desa dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Namun dengan adanya perkembangan PRA itu sendiri yang sangat pesatdan pentingnya fungsi pembelajaran mengenai kondisi dan kehidupan pedesaan dari, dan oleh masyarakat desa sendiri dengan catatan:
1)    Pengertian” Belajar” ini luas, meliputi kegiatan menganalisis perencanan dan bertindak.
2)    PRA lebih cocok disebut sekumpulan metode (jamak) bukan hanya metoda tunggal
3)    PRA memiliki teknik- teknik dan intrumen- intrumen yang bisa kita pilih. Sifatnya selalu terbuka untuk menerima cara- cara dan metode- metode yang baru di anggap cocok.
Dengan demikian definisi PRA disepakati sebagai sekumpulan pendekatan dan metoda- metoda yang mendorong masyarakat perdesaan untuk turut serta meningkatkan dan menganalisis pengetahuan mereka (masyarakat tersebut) mengenai hidup dan kondisi mereka itu sendiri, agar mereka dapat membuat rencana dan tindakan untuk memberbaiki kehidupannya.



2.1.3.1 Tujuan PRA
Metode pendekatan PRA dikembangkan dengan tujuan:
1)    Tujuan praktis (jangka pendek): menyelenggarakan kegiatan bersama masyarakat, untuk mengupayahkan penuhan kebutuhan praktis dan peningkatan kesejatraan masyarakat sekaligus sebagai sarana pembelajaran.
2)    Tujuan strategis (jangka panjang) adalah mebawa visi sebagaimana  dikemukakan itu, yaitu mencapai pemberdayaan masyarakat dengan menggunakan pendekatan pembelajaran ( Wahyuti, 2008).
2.1.3.2  Prinsip-Prinsip PRA
1)    Prinsip mengutamakan yang terabaikan (keberpihakan).
Ditujukan agar masyarakat yang terabaikan mendapat kesempatan untuk memiliki peran dan mendapat manfaat dalam kegiatan program pembangunan.
2)    Prinsip pemberdayaan (Penguatan) masyarakat.
Ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bantuan orang lain.
3)    Prinsip masyarakat sebagai pelaku, orang luar sebagai fasilitator.
Ditujukan untuk menempatkan masyarakat sebagai pusat kegiatan pembangunan dan bukan sebagai obyek.
4)    Prinsip saling belajar dan menghargai perbedaan.
Ditujukan untuk melahirkan sesuatu yang lebih baik dari proses pertukaran pengalaman dan pengetahuan masyarakat dengan pengetahuan dari luar.
5)    Prinsip santai dan informal.
Ditujukan untuk menimbulkan hubungan yang akrab sehingga kegiatan bersifat luwes, terbuka, tidak memaksa dan informatif.
6)    Prinsip triangulasi.
Ditujukan untuk mencari titik temu dari keanekaragaman disiplin ilmu dan pengalaman, keragaman sumber informasi dan keragaman teknik yang digunakan.
7)    Prinsip mengoptimalkan Hasil.
Ditujukan untuk mencari informasi yang benar-benar akurat dalam upaya pencapaian tujuan.
8)    Prinsip orientasi praktis.
Ditujukan untuk optimalisasi pengembangan kegiatan yang dikembangkan bersama masyarakat.
9)    Prinsip berkelanjutan dan selang waktu.
Ditujukan untuk mengantisipasi dan menyesuaikan perkembangan masyarakat.
10) Prinsip belajar dari kesalahan.
Ditujukan untuk melakukan penerapan yang sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan.
11) Prinsip terbuka.
Ditujukan untuk mengembangkan teknik sesuai dengan keadaan sebenarnya dan sesuai dengan kebutuhan setempat.
2.1.3.3 Unsur–Unsur Metoda PRA
1)    Proses Belajar
Dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman peserta belajar, diharapkan saling bertukar pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki masing-masing.
2)    Alat Belajar
Alat belajar PRA menyangkut didalamnya metode, teknik dan peralatan PRA. Metode PRA bermanfaat bagi banyak tujuan, antara lain untuk mengumpulkan data dan informasi, menganalisis informasi, mengumpulkan dan menganalisis data dan dapat juga untuk berkomunikasi.
3)    Hasil Belajar atau Output Belajar
Hasil belajar yang diharapkan yaitu tercapainya tujuan jangka pendek yaitu rencana program serta tercapainya tujuan jangka panjang yaitu tercapainya kearah pemberdayaan masyarakat yang sekaligus perubahan sosial.






2.2 Programa Penyuluhan Pertanian
2.2.1 Pengertian Programa penyuluhan
Pelaksanan penyuluhan pertanian dilakukan harus sesuai dengan programa penyuluhan prtanian. Programa penyuluhan pertanian dimaksudkan untuk memberi arah, pedoman, dan alat pengendali pencapai tujuan pengelenggara penyuluhan pertanian. Program pertanian terdiri dari program penyuluhan pertanian desa, program pertanian kecamatan, program penyuluhan pertanian kabupaten atau kota, program penyuluhan pertanian propinsi dan program penyuluhan pertanian nasional. Secara umum pada pasar 22 ayat (1) dan (2) UU. SP3K.2006 mengatakan : ayat (1) program penyuluhan pertanian disusun setiap tahun memuat rencana penyuluhan pertanian yang mengcakup pengorganisasian dan pengelolaan sumberdaya untuk mengfasilitasi kegiatan penyuluhan pertanian dan (2) Programa penyuluhan pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus terukur, realistis, demokratis, dan bertanggung jawab. Dalam pelaksanaan penyuluhan pertanian dilakukan dengan menggunakan pendekatan partisipatif dan melalui mekanisme kerja dan metode yang disusaikan dengan kebutuhan dan kondisi petani serta pelaku usaha pertanian.
Program penyuluhan adalah rencana tertulis yang disusun secara sistematis untuk memberi arah dan pedoman sebagai alat pengendali pencapaian tujuan penyuluhan ( permental, No25.2009).
2.2.2 Tujuan  Programa Penyuluhan
1)    Menyediakan acuan dalam penyelenggaraan penyuluhan pertanian bagi para penyelanggara.
2)    Memberikan acuan bagi penyuluh pertanian dalam menyusun rencana kegiatan penyuluhan pertanian.
3)    Menyediakan bahan penyusunan perencanaan penyuluhan untuk disampaikan dalam forum musrenbangtan tahun berikutnya.




2.2.3 Prinsip-Prinsip Penyusunan Programa Penyuluhan Pertanian
Penyusunan programa penyuluhan tersebut harus memenuhi syarat yaitu: harus terukur, realistis, bermanfaat, dapat dilaksanakan serta dilakukan secara partisipatif, terpadu, transparan, demokratis dan bertanggung gugat (Anonim, 2006).
1)    Terukur: programa yang disusun dapat diukur keberhasilannya
2)    Realistis: progarama yang disusun sesuai dengan keadaan/kenyataan sebenarnya
3)    Bermanfaat: programa penyuluhan harus memberikan nilai manfaat bagi peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan kesejahteraan pelaku utama dan pelaku.
4)    Dapat dilaksanakan: bahwa programa penyuluhan dapat dilaksanakan oleh penyuluh, pelaku utama dan pelaku usaha dalam mencapai tujuan.
5)    Partisipatif: penyusunan programa penyuluhan pertanian disusun secara partisipatif dengan melibatkan pihak luar yang terkait dengan pembangunan pertanian secara bersama-sama pelaku utama dan pelaku usaha serta penyuluh sejak dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi.
6)    Terpadu: bahwa programa penyuluhan yang disusun dengan memperhatikan program penyuluhan kecamatan, kabupaten, provinsi, dan nasional dengan berdasar kebutuhan pelaku utama dan pelaku usaha.
7)    Transparan: programa penyuluhan diselenggarakan dengan saling menghormati pendapat antara penyuluh, pemerintah, dan pelaku utama serta pelaku usaha.
8)    Bertanggung gugat: bahwa evaluasi programa penyuluhan dikerjakan dengan membandingkan pelaksanaan yang telah dilaksanakan dengan perencanaan yang telah dibuat dengan sederhana, terukur, dapat dicapai, rasional, dan kegiatannya dijadwalkan.





2.2.Unsur-Unsur Programa Penyuluhan
Keadaan yang menggambarkan fakta-fakta berupa data dan informasi mengenai potensi, produktifitas danlingkungan usaha pertanian, perilaku/tingkat kemampuan petani dan pelaku dalam usahanya diwilayah (desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, propinsi, nasional). Pada saat akan disusunnya programa penyuluhan pertanian dengan penjelasan sebagai berikut:
1)    Potensi usaha menggambarkan peluang usaha dari hulu sampai hilir yang prospektif untuk dikembangkan sesuai dengan peluang pasar, kondisi agroekosistim setempat, sumberdaya dan teknologi yang tersedia untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan pelaku utama dan pelaku usaha.
2)    Produktifitas usaha menggambarkan perolehan hasil usaha persatuan unit usaha saat ini (faktual maupun potensi perolehan hasil usaha yang dapat dicapai untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan pelaku utama dan pelaku usaha.
3)    Lingkungan usaha menggambarkan kondisi ketersediaan sarana dan prasarana usaha (agroinput, pasca panen, pengolahan distribusi dan pemasaran) serta kebijakan yang mempengaruhi usaha pelaku utama dan pelaku usaha.
4)    Perilaku berupa kemampuan (pengetahuan, ketrampilan dan sikap) pelaku utama dan pelaku usaha dalam penerapan teknologi usaha (teknologi usaha hulu, usaha tani dan teknologi usaha hilir).
5)    Kebutuhan pelaku utama dan pelaku usaha menggambarkan keperluan akan perlindungan, kepastian, epuasan yang dapat menjamin terwujudnya keberhasilan melaksanakan kegiatan usaha pertanian untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan bagi pelaku utama dan pelaku usaha.







2.3 Penyusunan Rencana Kegiatan (Demcar)
Demcar adalah metode dan teknik penyuluhan pertanian merupakan cara dan prosedur yang dilakukan oleh seorang agen pembaharu/ penyuluh dibidang pertanian,yang bertujuan untuk membantu mengubah perilaku petani ke arah yang lebih baik. Metode dan teknik penyuluhan pertanian akan efektif apabila digunakan atau ditetapkan secara tepat.
1)    Tahapan penyusunan rencana kegiatan (demonstrasi cara):
2)    Menetapkan materi penyuluhan untuk demonstrasi
3)    Menetapkan jadwal kegiatan penyuluhan
4)    Menetapkan peserta penyuluhan
5)    Menetapkan media penyuluhan
6)    Mengevaluasi rencana kegiatan menyuluh























BAB III
METODOLOGI
3.1 Tempat dan Waktu
Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) I dilaksanakan didesa Hu’u kecamatan Hu’u Kabupaten Dompu Propinsi Nusa Tenggara Barat yang dimulai pada tanggal 23 April sampai 24 Agustus 2012.
3.1.1 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam penyusunan programa desa antara lain:
1)    Spidol
2)    Pensil
3)    Kertas koran
4)    Kater/gunting
5)    Lakban
6)    Hvs
7)    Kamera
3.2 Metode pelaksanaan
3.2.1 Identifikasi Potensi Wilayah dan Agroekosistem
Langkah kerja yang perlu dilakukan dalam identifikasi potensi   wilayah adalah dengan tahapan sebagai berikut:
1)    Menyiapkan alat dan bahan identifikasi potensi wilayah sesuai dengan kebutuhan.
2)    Memilih dan memahami intrumen identifikasi potensi wilayah
3)    Mengumpulkan data sekunder dan sumber yang relevan.
4)    Mengumpulkan data primer potensi wilayah melalui wawancara dan observasi.
5)    Merekap data sesuai format dalam pedoman identifikasi potensi wilayah.
6)    Menganalisis data potensi wilayah secara deskriptif kualitatif.
7)    Merumuskan dan menetapkan potensi wilayah hasil analisis.
8)    Menyusun hasil identifikasi potensi wilayah dalam bentuk laporan.


3.2.2 Penyusunan Programa Penyuluhan Pertanian Desa
Langkah kerja yang dilakukan dalam penyusunan programa adalah:
1)    Merumuskan keadaan
2)    Mengajikan hasil analisis perumusan keadaan.
3)    Menyusun rencana definitif kelompok (RDK) dan rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK).
4)    Menetapkan tujuan.
5)    Menetapkan faktor- faktor masalah.
6)    Menetapkan masalah dengan teknik pemeringkatan.
7)    Melakukan pertemuan dengan model FGD atau rembuk tani.
8)    Mengisi matriks programa penyuluhan pertanian.
9)    Membuat lembar pengesahan.
10) Membuat laporan penyusunan programa penyuluhan pertanian.
3.2.3 Rancangan Penyuluhan
Langkah- langkah yang perlu dilakukan dalam penyusunan   rancangan penyuluhan adalah :
1)    Menetapkan salah satu dari beberapa prioritas masalah yang harus diselesaikan berdasarkan matriks yang harus disusun dalam programa penyuluhan pertanian desa.
2)    Menetapkan sasaran penyuluhan (didasarkan pada kebutuhan sasaran dalam programa penyuluhan pertanian).
3)    Penetapan tujuan.
4)    Menentukan materi penyuluhan (berdasarkan pada kebutuhan sasaran dalam programa penyuluhan pertanian)yang terdiri dari:
a.    Mengumpulkan bahan untuk menyusun materi penyuluhan.
b.    Mengambil keputusan dalam memilih materi penyuluhan.
c.    Menyusun materi penyuluhan dalam bentuk tulisan.
d.    Membuat lembaran persiapan menyuluh (LPM).
5)    Menentukan metode penyuluhan (berdasarkan pada kebutuhan     sasaran dalam  programa penyuluhan pertanian) dengan langkah- langkah:
a.    Memilih metode penyuluhan Sesuai dengan tujuan penyuluhan,  karakteristik sasaran dan sifat materi.
b.    Menyiapkan materi, media/ alat bantu penyuluhan yang  lain.
c.    Menyusun rencana analisis efektifitas metode penyuluhan.
6)    Membuat media penyuluhan (berdasarkan pada kebutuhan   sasaran dalam  programa penyuluhan pertanian).
7)    Menyusun perangkat evaluasi (evaluasi materi, evaluasi metode, evaluasi media, evaluasi proses penyuluhan serta evaluasi hasil penyuluhan pertanian).
8)    Evaluasi penyuluhan pertanian.



























DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. Pokok-pokok pikiran pemantapan sistim penyuluhan di JawaTimur. Malang
Ismulhadi, 2012. Modul Praktek Kerja Lapangan I. Sekolah Tinggi Penyuluhan   Malang.
Martaamidjaja, 2000. Pedoman umum perencanaan pertisipatif penyuluhanpertanian. Jakarta, Departemen Pertanian.
Rustandi,Y.2011. Buku Ajar Media Penyuluhan Pertanian. Sekolah  Tinggi Penyuluhan Pertanian Malang.
Setiana, 2005. Teknik penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat. Gahlia Indonesia. Bogor.
Wahjuti, 2007. Metodologi penyuluhan partisipatif. Malang. STPP Malang.
Udrayana,S.B.,Ismulhadi,Windari,W.,Rustadi,Y.,Yuliasih,S.,Sjechnadarfuddin, 2012. Bahan Ajar Metode Penyuluhan Pertanian. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Malang.